Protes Peserta Surabaya di IJMC Jember , Juri Tegaskan Penilaian Berdasarkan Kriteria
Keluarga dan pembina Melopil Harmonik merasa dirugikan setelah tim mereka, yang awalnya diperkirakan menang tapi kalah dalam penilaian.
Dina Aristarasari, kerabat peserta, menyoroti masalah penilaian:
* Bobot Visual vs. Tone: Menurutnya, tim yang kaya visual dan gerak (visualisasi dominan) seharusnya tidak langsung kalah hanya karena dianggap ada sedikit kekurangan pada aspek Tone/Pitch (suara/nada).
* Transparansi di Lapangan: Peserta mendesak juri memberikan penjelasan yang jelas ("clear enough") mengenai alasan kekalahan atau kemenangan secara terbuka di lapangan.
Mereka menyayangkan jawaban panitia yang selalu kembali pada alasan subjektif , seperti Rasa dari Harmonisasi, Intonasi dan sound Produk yang dihasilkan.
Jawaban Juri: Nilai Berdasarkan Kriteria
Adika Putra Perdana, salah satu Juri IJMC, memberikan klarifikasi tegas terhadap protes tersebut, khususnya mengenai sistem penilaian.
![]() |
| Adika Putra Perdana Juri IJMC |
Adika menjelaskan bahwa komposisi juri terdiri dari dua juri musik dan satu juri visual. Tim yang memenangkan kategori tersebut unggul karena skor musikalnya lebih tinggi, meskipun juri mengakui bahwa tim Surabaya (Melopil Harmonik) memiliki performa visual yang lebih baik.
Penilaian Juri Musik Mutlak:
"Yang dinilai itu kan dua musik dan satu visual. Tadi yang menang itu karena secara musikal menang... dua juri Musik tadi dua-duanya pun memilih." Ujarnya
Kriteria Jelas, Bukan Selera:
Adika membantah tudingan penilaian berdasarkan selera, menegaskan bahwa semua juri wajib mengikuti kriteria yang jelas, termasuk: Tone Color, Harmoni, Balancing, Blending, dan Konten/Bobot Materi.
Ia juga menjelaskan bahwa juri mendengar performa secara detail di depan lapangan, bukan dari reaksi audiens. Hal ini memungkinkan juri menilai secara akurat aspek-aspek teknis seperti Intonation dan Pitch yang mungkin tidak terdengar jelas oleh penonton biasa. (herry)


Komentar
Posting Komentar