Tingkatkan Kelas Pedagang Sayuran Keliling, Diskopum Jember Gelar Pelatihan "Mlijo Cinta"
![]() |
| Totok Sugiharto, S.E |
Kepala Bidang Produksi dan Restorasi Usaha Diskopum Jember, Totok Sugiharto, S.E., menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan tahap akhir dari rangkaian program yang telah menyasar 2.300 pelaku usaha mlijo (pedagang sayur keliling) di seluruh Kabupaten Jember.
"Hari ini adalah titik ke-19 sekaligus yang terakhir. Sebelumnya kami sudah berkeliling ke 18 titik di berbagai kecamatan seperti Sukorambi dan Panti. Total ada sekitar 90 peserta yang hadir pada sesi penutup ini," ujar Totok.
Materi Pelatihan: Dari Pembukuan hingga Public Speaking
Program Mlijo Cinta tidak hanya memberikan bantuan fisik berupa rombong, tetapi juga membekali pedagang dengan keterampilan manajemen modern. Ada tiga materi utama yang ditekankan dalam pelatihan ini:
* Manajemen Keuangan Sederhana: Pedagang diajarkan untuk memisahkan uang rumah tangga dengan uang usaha agar keuntungan harian dapat terhitung dengan jelas dan bisa disisihkan untuk tabungan pendidikan anak.
* Public Speaking dan Pelayanan Pelanggan: Mengingat pedagang mlijo bisa bertemu 100 hingga 200 pelanggan setiap hari, mereka dilatih untuk berkomunikasi dengan ramah layaknya standar pelayanan di supermarket modern.
* Higienitas dan Penataan Barang: Peserta diajarkan cara mengelompokkan barang dagangan. Khusus untuk rombong Mlijo Cinta, kini dilengkapi dengan cooler box agar kualitas ikan dan daging tetap segar, tidak lagi hanya menggunakan kantong plastik yang rentan rusak.
Pejuang Ekonomi Keluarga
Totok menekankan bahwa program ini merupakan bentuk perhatian khusus dari Gus Bupati Jember terhadap para "Pejuang Ekonomi". Menurutnya, para pedagang mlijo memiliki etos kerja yang luar biasa; bangun dini hari saat orang lain tidur dan mandiri secara permodalan.
"Hanya dengan modal sekitar 1 hingga 2 juta rupiah, mereka bisa menghasilkan keuntungan 100 sampai 200 ribu per hari. Jika dirata-rata, penghasilan mereka sudah di atas UMK Jember. Ini adalah potensi besar untuk menekan angka kemiskinan ekstrem dan stunting di Jember," tambahnya.
Kedepannya, Pemerintah Kabupaten Jember juga tengah mengkaji skema permodalan di mana pedagang hanya perlu membayar modal pokok, sementara bunga pinjaman akan disubsidi oleh pemerintah.
"Harapan kami, penampilan mereka berubah menjadi lebih bersih dan higienis, seperti 'Supermarket Keliling'. Dengan pelayanan yang lebih baik, pendapatan mereka akan meningkat, dan kesejahteraan keluarga pun terjamin," pungkas Totok.
( herry)

Komentar
Posting Komentar