Semarak Karnaval Budaya Desa Badean di Tengah Isu Sound Horeg: Kades Garansi Ganti Rugi dan Batasi Subwoofer

Sound Horeg siap berlaga di desa Badean 

JEMBER. barathanews.com – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Desa Badean, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember, berlangsung meriah. Mengusung konsep pesta rakyat murni swadaya masyarakat, ribuan warga memadati rute karnaval budaya sepanjang kurang lebih 1,7 kilometer pada Sabtu (3/10/2026).

Di balik kesemarakannya, keberadaan kendaraan pengangkut sistem suara bervolume tinggi (sound horeg)—termasuk unit populer seperti Brewog—yang kerap memicu kontroversi, menjadi perhatian serius pihak penyelenggara.

Kepala Desa Badean, Purnanto, S.Sos, menyampaikan bahwa karnaval tahun ini dirancang bukan sekadar hiburan tahunan, melainkan wadah pemersatu serta penyalur hobi dan aspirasi pemuda desa.

"Karnaval Desa Badean tahun 2026 ini mengarah pada kebersamaan dan menampung aspirasi pemuda dan masyarakat sesuai hobinya. Pemerintah desa bersama tokoh masyarakat berusaha memenuhi hal tersebut. Sesuai semboyan warga Badean, 'lek rukun', apa yang kita inginkan bisa terwujud," ujar Purnanto di lokasi kegiatan.

Untuk mengantisipasi dampak buruk dari getaran sound horeg, pihak Pemdes Badean telah berkoordinasi dengan jajaran Polsek dan Polres Jember untuk menerapkan serangkaian aturan ketat. 

"Kita sudah menelusuri rute-rute, mungkin ada warga yang sakit, atau rumah yang hitungannya agak tua yang bisa ditimbulkan dampak negatif dari kegiatan karnaval dan sound horeg ini. Kita sudah antisipasi seperti kaca kita sudah lakban," ungkap Purnanto.

Purnanto sesaat sebelum acara di mulai

Bahkan, Purnanto secara tegas memberikan garansi ganti rugi penuh jika getaran suara menyebabkan kerusakan pada bangunan warga di sepanjang rute parade.

"Kami siap mengganti rugi apabila ada kerusakan-kerusakan itu atau hal-hal yang bersifat berdampak negatif dari kegiatan ini," tegasnya.

Selain garansi fisik, pembatasan spesifikasi teknis peralatan suara juga diberlakukan sesuai kesepakatan.

"Kalau batasan sub, kita 12 sub. Volume kita atur, harus lihat sikon (situasi dan kondisi). Kalau perumahan padat, saya sarankan kepada koordinator-koordinator tidak usah (terlalu keras), yang penting bunyi. Tujuan kita kan menghibur," jelas Purnanto.

Purnanto menambahkan bahwa karnaval yang diikuti oleh sekitar 3.000 peserta dari 16 grup yang mewakili 5 dusun dan 11 padukuhan ini murni didanai oleh kesadaran swadaya masyarakat.

"Ini murni swadaya masyarakat kegiatan ini, desa hanya memfasilitasi dan membantu hal-hal yang sangat kecil ketimbang pengeluaran masyarakat itu. Penilaian tidak ada, cuma kita mungkin dari grup-grup itu ada pemantauan khusus, semacam kasih penghargaan lah karena sudah mau swadaya," tuturnya.

Mengenai aturan waktu dan keamanan, pihak desa berupaya agar seluruh rangkaian acara dapat diselesaikan secara tertib.

"Waktu kita usahakan selesai ya sekitar jam 12 (malam) penginnya panitia. Yang pertama harus aman, nyaman, tertib, mematuhi aturan-aturan yang ada sesuai dengan himbauan dari Polres Jember. Harapan saya karnaval ini berjalan lancar dan sukses, dan tahun depan lebih meriah dan lebih sukses lagi," tutup Purnanto.

( herry)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bambang Sugihono Kembali Pimpin GM FKPPI Jember, Siap Bersinergi Bangun Daerah

Bupati Jember Lantik Puluhan Pejabat Administrator, Pengawas dan Kepala Puskesmas untuk Percepatan Layanan Publik

Yayasan Sosial Darma Budi Luhur Resmikan Kolumbarium Parantijati Jember, Siap Tampung Ribuan Abu Jenazah