Wirausaha Ramah Lingkungan "Loofah Craft" Jember Tembus Pasar Ekspor Korea, Pengganti Spon Plastik


JEMBER. barathanews.com  – Kelompok perajin lokal di Desa Seputih, Kecamatan Mayang, Jember, Jawa Timur, sukses mengolah limbah pertanian menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Melalui kegiatan pelatihan dan pengembangan Rumah Produksi Kerajinan Loofah & Spons Sabut Kelapa yang didukung Pertamina Foundation, produk spons mandi dan pencuci piring alami berbasis serat gambas (loofah) ini kini telah dilirik pasar internasional. Kegiatan produksi dan pelatihan tersebut berlangsung pada Sabtu (8/11/2025).

 Ekspor  ke Korea Selatan

Keberhasilan terbesar kelompok ini adalah menembus pasar ekspor. Elizabeth Puspaning Rom S., dari Rafandra Eternal Nusantara dan Pertamina Foundation, yang menangani urusan funding dan ekspor, mengungkapkan langkah maju tersebut.

“Untuk ekspor, kami sudah tembus ke Korea Selatan,” ujar Elizabeth. Ia menjelaskan bahwa kerja sama dilakukan dengan distributor resmi di Korea untuk pengurusan perizinan dan penjualan.

Elizabeth ( atas) dengan gambas yang sudah kering dan Roni ( bawah) dengan produk yang sudah jadi 

Selain Korea, sampel produk juga sudah dikirim ke beberapa negara Asia dan Australia. Elizabeth menyebut target jangka panjang adalah masuk ke jaringan hotel, resor, dan spa di Korea Selatan pada tahun berikutnya. “Peminatnya lumayan banyak, terutama untuk spa, kecantikan, dan ibu-ibu yang mencari spons ramah lingkungan,” tambahnya.

 Filosofi Produk: Mengganti Spons Plastik

Produk utama yang dikembangkan adalah spons alami dari serat loofah atau gambas. Bapak Maftuh Faironi (Roni), perajin lokal dari Desa Seputih Kecamatan Mayang, menjelaskan fokus produk mereka.

“Kami fokus pada kerajinan dari serat gambas yang diolah menjadi spons alami untuk kebutuhan mandi, cuci piring,” kata Pak Roni.

Keunggulan utama produk ini terletak pada aspek keberlanjutan. Elizabeth menekankan pentingnya beralih dari produk berbahan plastik.

 “Harapannya masyarakat beralih menggunakan spons dari gambas atau loofah sebagai langkah kecil untuk menjaga bumi, dengan mengganti spons plastik ke yang alami. Karena bisnis ini tidak hanya berdampak pada kita, tapi juga pada alam dan orang banyak,” tegas Elizabeth.

Tantangan Bahan Baku dan Kemitraan Petani

Meskipun sukses menembus pasar internasional, kelompok ini menghadapi tantangan dalam penyediaan bahan baku. Pak Roni, yang awalnya adalah produsen benih gambas, menjelaskan bahwa ide kerajinan ini muncul setelah melihat kulit luar gambas (serat) yang terbuang.

Memberikan pelatihan pada masyarakat 

“Kami bermitra dengan kurang lebih 15 sampai 20 orang petani,” ungkap Pak Roni.

Untuk memenuhi kebutuhan tahunan yang mencapai 100.000 hingga 150.000 piece, diperkirakan dibutuhkan sekitar 10 hektar lahan gambas.

 “Kendala yang dialami itu kalau musim hujan disertai angin kencang. Tanaman gambas kan merambat dan pakai bambu, itu banyak yang roboh,” jelas Pak Roni.

Solusinya, penanaman kini lebih difokuskan pada musim kemarau. Selain diekspor, produk ini juga telah dipasarkan di dalam negeri, termasuk di toko oleh-oleh seperti di Yogyakarta. ( herry)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Disnaker Jember Gelar Bimtek Verifikasi Dan Validasi Data Pekerja Rentan/ Buruh Petani Tembakau, Akan Diajukan Untuk Menerima Iuran BPJS Ketenagakerjaan

Pansus LKPJ DPRD, Kadin Jember Usulkan Kawasan Khusus Ekonomi Dan Aplikasi Cinta UMKM

Bulog Jember, Serap Gabah Petani Perhari Mencapai 2 Ribu Ton