Gempa dengan magnitudo 6,5 Gunjang Jember, 885 pelajar Panik

JEMBER. barathanews.com - Gempa bumi dengan magnitudo 6,5 menggunjang Jember, Jawa Timur pada Rabu Siang (28/01/26), warga yang melakukan aktifitas baik di luar dan dalam gedung langsung panik termasuk 885 siswa siswi, 40 PMR dan 20 guru yang ada di SMKN 4 Jember berusaha menyelamatkan diri khususnya yang ada diruang kelas bangunan tiga lantai. 


Untuk menghindari reruntuhan atap ruang kelas, siswa dan guru menyelamatkan dirinya dengan menutup kepala dengan tas masing masing bahkan masuk ke bawah meja untuk menghindari reruntuhan atap ruangan akibat getaran gempa yang cukup keras. 


Setelah getaran gempa selama 15 detik berhenti, semua pelajar dan guru keluar ruangan mengikuti jalur evakuasi yang telah dibuat dengan tetap menutup kepala mereka menggunakan tas sebagai langkah penyelamatan. Pada gempa tersebut, lima siswa mengalami luka luka di bagian kepala, satu diantaranya mengalami patah tulang dibagian kaki. 


Tim medis PMI Kabupaten Jember sebanyak dua personel dan 1 ambulan yang tiba dilokasi gempa melakukan pertolongan pertama sebelum korban mendapat tindakan medis di rumah sakit terdekat. Gempa yang terjadi di jember dengan korban pelajar tersebut merupakan simulasi yang digelar oleh PMI Jember dan Palang Merah Jepang atau Japanese Red Cross Society (JRCS).


“Tadi kita melakukan langkah langkah penyelamatan diri kita saat terjadi bencana gempa bumi mulai menutup kepala dengan tas agar aman dari reruntuhan atap dan berlindung dibawah meja sebelum akhirnya kita keluar ruangan mengikuti jalur evakuasi,” ujar Aisyah Rizki Putri, Siswi klas 11 SMKN 4 Jember usai simulasi di sekolah.


Selain diikuti 885 pelajar, simulasi kesiapsiagaan bencana tersebut juga diikuti oleh 20 guru SMKN 4 Jember sehingga saat terjadi bencana gempa disaat jam pelajaran mereka bisa mengetahui langkah apa yang harus dilakukan pertama untuk keselamatan diri dan anak didiknya. 


“Saya ucapkan terima kasih pada PMI Jember dan Palang Merah Jepang, sebenarnya pendidikan aman bencana ini sudah diatur di Permendikbud No.33 Tahun 2019 tentang keamanan sekolah. Karenanya saya mengapresiasi PMI Jember dan JRCS yang sudah memberi materi kesiapsiagaan bencana mulai dari mitigasi, evakuasi sampai pendampingan pemasangan rambu rambu jalur evakuasi,” ujar Septyan Helmi Nugroho, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan.


Program Society and Community Resilience (SCR) kerjasama anatara Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Jember dan Japanese Red Cross Society (JRCS) tersebut juga dilakukan di sekolah lain di jember dengan total keseluruhan sebanyak 11 sekolah baik SD, SMP dan SMA/SMK. Program ini focus pada pelatihan, managemen tanggap darurat dan penyusunan SOP atau rencana aksi pengurangan resiko bencana (PRB) di tingkat desa. 


“Terkait simulasi di SMKN 4 Jember ini, kita dari PMI Kabupaten Jember bekerjasama dengan Palang Merah Jepang ingin tahu bagaimana kesiapsiagaan siswa ketika menghadapi situasi bencana utamanya gempa, di simulasi tadi dimulai dari apa yang harus dilakukan pertama saat gempa terjadi hingga proses menyelamatkan diri,” kata Zainollah S.Pd, Ketua PMI Kabupaten Jember yang hadir dalam acara.  


Dengan kesiapsiagaan bencana yang masuk dalam Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di masing masing sekolah, diharapkan saat terjadi bencana gempa bumi, anak anak yang sedang belajar diruang kelas bersama guru mereka bisa terselamatkan. Tidak hanya saat di lingkungan sekolah, Pendidikan kesiapsiagaan bencana diharapkan bisa diterapkan di keluarganya bahkan lingkungan sekitar rumah.(*)


Pewarta: herry 

Editor.    : barathanews.com 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Disnaker Jember Gelar Bimtek Verifikasi Dan Validasi Data Pekerja Rentan/ Buruh Petani Tembakau, Akan Diajukan Untuk Menerima Iuran BPJS Ketenagakerjaan

Pansus LKPJ DPRD, Kadin Jember Usulkan Kawasan Khusus Ekonomi Dan Aplikasi Cinta UMKM

Bambang Sugihono Kembali Pimpin GM FKPPI Jember, Siap Bersinergi Bangun Daerah