Hari Kedua Pelatihan MTDB PMI Jember: Dari Akurasi Data Hingga Etika Bilik Asmara


JEMBER. barathanews.com  – Memasuki hari kedua Pelatihan Manajemen Tanggap Darurat Bencana (MTDB) dan Operasional Posko pada Sabtu (10/1), Aula PMI Kabupaten Jember menjadi pusat diskusi intensif. Kegiatan hasil kolaborasi Japanese Red Cross Society (JRCS) dan PMI Kabupaten Jember ini membedah standarisasi layanan pengungsian yang lebih humanis dan akuntabel.

Posko Sebagai Pusat Syaraf Informasi

Sesi pagi dibuka oleh Julius Arianus Mbusu yang membedah peran vital Posko dalam kebencanaan. Julius menegaskan bahwa Posko bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan pusat syaraf informasi dan pengambilan keputusan.

"Penting adanya alur komando yang jelas agar tidak terjadi tumpang tindih instruksi saat masa kritis bencana," tegas Julius di hadapan para peserta.

Senada dengan hal tersebut, Lutfil Chakim membekali peserta dengan kemampuan Planning, Monitoring, Evaluation, and Reporting (PMER) serta penyusunan Rencana Operasi (Renops). Ia menekankan bahwa dalam komunikasi bencana, data akurat adalah kunci utama pertanggungjawaban kepada publik.

Menjaga Etika dan Cegah Eksploitasi

Materi yang paling menyita perhatian adalah isu lintas sektoral mengenai perlindungan kelompok rentan dan kode etik relawan, atau yang dikenal dengan Protection, Sexual Exploitation and Abuse (PSEA).

Perwakilan JRCS di Indonesia, Awaludin, yang hadir memantau jalannya pelatihan bersama Nodoka (JRCS Jepang), menekankan pentingnya safeguarding dalam setiap layanan.

"Kita harus memastikan adanya safeguarding. Saya menyarankan penggunaan atribut seperti banner yang menegaskan bahwa PMI sangat anti terhadap segala bentuk eksploitasi. Kita harus akuntabel terhadap komunitas (CEA)," ujar Awaludin.

Ahmad Kholik, pemateri isu lintas sektoral, menambahkan bahwa menjaga etika antara relawan dan penerima manfaat adalah "harga mati". Ia memperingatkan agar tidak ada hubungan asmara antara petugas dan pengungsi guna menjaga profesionalitas dan melindungi mereka yang sedang dalam kondisi rentan.

Inovasi Layanan: Kehadiran Bilik Asmara

Salah satu poin krusial yang dibahas adalah transformasi manajemen pengungsian. Berbeda dengan model barak tradisional masa lalu yang tanpa sekat, PMI kini mengedepankan konsep Family Time.

Inovasi ini diwujudkan melalui penyediaan "Bilik Asmara". Fasilitas ini bertujuan untuk:

 * Menjaga Kesehatan Mental: Memberikan ruang privat bagi pasangan suami istri yang tinggal lama di pengungsian.

 * Keharmonisan Keluarga: Menjamin hak-hak dasar pasangan meski dalam situasi darurat.

 * Spesifikasi Khusus: Tenda memiliki standar yang sama dengan tenda pengungsi lainnya, namun penempatannya diatur lebih privat dan jauh dari pusat keramaian untuk menjaga kenyamanan pengguna.

Pelatihan ini diharapkan dapat melahirkan relawan yang tidak hanya tangkas di lapangan, tetapi juga memiliki empati tinggi dan menjunjung tinggi standar kemanusiaan internasional.

Pewarta: Herry

Editor: Barathanews.com





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Disnaker Jember Gelar Bimtek Verifikasi Dan Validasi Data Pekerja Rentan/ Buruh Petani Tembakau, Akan Diajukan Untuk Menerima Iuran BPJS Ketenagakerjaan

Pansus LKPJ DPRD, Kadin Jember Usulkan Kawasan Khusus Ekonomi Dan Aplikasi Cinta UMKM

Bulog Jember, Serap Gabah Petani Perhari Mencapai 2 Ribu Ton