Penjualan Rumah di Jember Turun Drastis, Apersi Jember Raya Minta Kemudahan Perizinan dan Tenor KPR 40 Tahun
JEMBER. barathanews.com — Sektor perumahan di Kabupaten Jember dan sekitarnya mengalami penurunan angka penjualan yang cukup signifikan pada tahun 2026. Hingga pertengahan Oktober, capaian penjualan rumah secara nasional belum mencapai separuh dari target tahunan.
Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Korwil Apersi ( Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia) Jember Raya, Asyik Pamilu Hadi, S.T., M.T., usai menggelar rapat rutin pengurus dan anggota di Jember pada Kamis (15/10/2026).
"Penjualan turun. Jadi realisasi tahun ini di bulan Oktober ini baru secara nasional ya, baru 160.000 sekian dari 350.000. Belum ada separo. Sisa waktu tinggal Oktober, November, Desember saja. Termasuk di Jember, kayaknya enggak tercapai targetnya," ungkap Asyik saat diwawancarai.
Banyak Pengajuan KPR Ditolak Perbankan
Menurut Asyik, tersendatnya target penjualan properti ini dipicu oleh berbagai kendala finansial yang dialami oleh calon pembeli. Banyak pengajuan kredit pemilikan rumah (KPR) yang akhirnya kandas di tingkat perbankan.
"Banyak faktor. Masih di urusan pinjol, banyak srek-srek (BI Checking/SLIK) user yang diajukan tidak memenuhi syarat. Kemudian penghasilan user yang belum mencapai minimal, sehingga ACC kreditnya juga harus turun. Kalau sudah turun kan berarti perlu nambah uang muka, nah ini tidak ada kemampuan bayar," jelasnya.
Guna mengatasi kendala ketidakmampuan bayar tersebut, Apersi Raya mendorong agar skema tenor KPR jangka panjang hingga 40 tahun bisa segera diimplementasikan secara luas.
"Kami berharap sih tenor 40 tahun itu sudah bisa dijalankan. Artinya apa, kalau tenor 40 tahun bisa dijalankan, orang-orang muda atau anak-anak muda yang sekarang usianya 20 tahun itu bisa ke 25 tahun KPR-nya, sehingga angsurannya lebih rendah, lebih terjangkau," harap Asyik.
Dorong Peran Pemerintah Daerah dan Program 3 Juta Rumah
Selain masalah pembiayaan, Apersi Raya juga menyoroti pentingnya dukungan penuh dari pemerintah daerah dalam hal kemudahan regulasi dan perizinan. Sebab, industri properti berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja lokal.
"Peran pemerintah tetap seperti yang pernah saya sampaikan dulu: permudah perizinan, fasilitasi dengan kemudahan-kemudahan, dengan penyederhanaan perizinan supaya sektor terkait bisa berjalan. Karena kami developer kan juga ikut mengurangi jumlah pengangguran. Ada 160 sekian sektor yang terkait dengan properti," paparnya
Asyik menambahkan, komitmen pemerintah daerah sangat menentukan keberhasilan program strategis nasional di bidang perumahan.
"Toh ini juga program Presiden, 3 juta rumah. Kalau tidak disupport oleh pemerintah daerah ya bagaimana kita bisa ikut menyukseskan program Presiden yang 3 juta rumah itu?" tegasnya.
Langkah Strategis Akhir Tahun
Menghadapi sisa waktu di akhir tahun 2026, Apersi Raya akan terus melakukan langkah-langkah persuasif dan selektif bersama pihak perbankan.
"Ya kita tetap akan melakukan sosialisasi kepada calon-calon user untuk tetap kita bisa berjualan. Dan paling tidak kita memberikan informasi kepada perbankan untuk bisa selektif yang baik terhadap calon-calon user yang sangat rendah risiko," pungkas Asyik.
Lambatnya pertumbuhan di sektor perumahan ini dinilai menjadi salah satu indikator bahwa kondisi perekonomian saat ini masih bergerak pelan. Apersi Raya berharap ke depan pembukaan lapangan kerja baru semakin diperluas agar para lulusan baru dapat memiliki penghasilan yang layak dan mampu membeli rumah sendiri.
(herry)


Komentar
Posting Komentar