Antisipasi Ancaman Megathrust, Sibat PMI Jember Hijaukan Pesisir Pantai Kepanjen
JEMBER barathanews.com – Sebagai wilayah yang berada dalam jalur Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik, pesisir selatan Pulau Jawa menyimpan potensi risiko gempa bumi dan tsunami yang tinggi. Menyadari ancaman nyata tersebut, Tim Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) PMI Desa Kepanjen menggelar aksi reboisasi dan sosialisasi mitigasi bencana pada Minggu pagi (18/01/26).
Kegiatan yang dipusatkan di bibir pantai Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas ini bertepatan dengan peringatan satu tahun berdirinya Sibat di wilayah tersebut. Selama setahun terakhir, Sibat telah konsisten mengedukasi warga setempat mengenai kesiapsiagaan bencana melalui kolaborasi intensif antara PMI Kabupaten Jember dan Palang Merah Jepang (Japanese Red Cross Society/JRCS).
Benteng Alami dan Edukasi Masyarakat
Aksi penanaman pohon di sepanjang garis pantai dilakukan secara gotong royong oleh relawan PMI, perwakilan JRCS, serta warga sekitar. Selain untuk mencegah abrasi, reboisasi ini diproyeksikan sebagai benteng alami (green belt) guna meredam dampak angin kencang dan potensi gelombang tsunami.
"Kontribusi Sibat dalam mengedukasi masyarakat Desa Kepanjen mengenai risiko bencana alam sangat luar biasa. Saya bangga mereka bisa berpartisipasi aktif di tengah masyarakat," ujar Sukamid, Kepala Desa Kepanjen, dalam sambutannya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Sibat Desa Kepanjen, Imam Muklis, menekankan pentingnya kewaspadaan bagi warga pesisir. "Wilayah kita berada di pesisir selatan yang berhadapan langsung dengan zona megathrust. Kami berharap melalui sosialisasi ini, masyarakat lebih siap. Kesiapan adalah kunci keselamatan," tuturnya.
Sinergi Internasional untuk Ketangguhan Lokal
Acara ini turut dihadiri oleh Camat Gumukmas, Dani Alkolin, beserta jajaran muspika, pengurus PMI Kabupaten Jember, dan tim dari JRCS yang selama setahun terakhir memberikan pendampingan teknis di lapangan.
Pengurus PMI Jember, Narto, memberikan apresiasi atas dedikasi para relawan Sibat. Ia menyebut bahwa peran masyarakat adalah garda terdepan dalam mitigasi bencana.
"Bencana alam tidak bisa ditebak kapan datangnya. Dalam satu tahun perjalanannya, Sibat sangat aktif menggerakkan masyarakat melalui berbagai program edukasi kesiapsiagaan," jelas Narto.
Melalui momentum ini, Sibat Desa Kepanjen diharapkan terus menjadi pelopor dalam menciptakan masyarakat yang tangguh, tanggap, dan mandiri dalam menghadapi ancaman bencana di masa depan.(*)
Pewarta: herry
Editor : barathanews.com

Komentar
Posting Komentar