Peringati Harkitnas 2026, Mahasiswa PKN Universitas Jember Belajar Nasionalisme Nyata dari Ikon Prestasi Pancasila


​JEMBER. barathanews.com- Momen Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2026 menjadi ajang refleksi penting bagi mahasiswa Universitas Jember (Unej). Guna menanamkan jiwa nasionalisme yang konkret, Kelas Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) 30 Universitas Jember berkolaborasi dengan Peace Leader Indonesia menggelar acara nonton bareng (nobar) dan dialog interaktif di Ruang Cerdas Universitas Jember.

​Dalam kegiatan ini, para mahasiswa menyaksikan video dokumenter produksi She Builds Peace Indonesia—Aman Indonesia yang berjudul "Kisah Redy Saputro: Benih Perdamaian di Ruang Anak Muda". Tak hanya sekadar menonton, kelas ini juga menghadirkan langsung sosok inspiratif di balik video tersebut, Redy Saputro, sebagai narasumber tamu.

​Dosen pengampu mata kuliah Pancasila, Dina Tsalist Wildana, menegaskan bahwa perkuliahan PKN sudah semestinya keluar dari sekat-sekat teori konvensional. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak melihat manifestasi nyata dari nilai-nilai kebangsaan.

​"Kelas PKN bukan hanya kelas bicara teori saja. Mahasiswa bisa belajar langsung tentang nasionalisme kebangsaan dari sosok pemuda yang ada di masyarakat. Nasionalisme sangat penting bagi pemuda, khususnya mahasiswa, untuk terus menjaga persatuan, membentengi diri dari pengaruh negatif globalisasi, dan memastikan ikut aktif dalam kegiatan nasional kebangsaan secara kreatif," ujar Dina Tsalist Wildana.

​Sosok Redy Saputro yang dihadirkan di kelas tersebut merupakan cerminan pemuda Tionghoa yang mendedikasikan dirinya pada kerja-kerja kemanusiaan, perdamaian, dan toleransi. Atas konsistensinya, Redy telah dianugerahi penghargaan sebagai Pemuda Utama Jawa Timur oleh Pemerintah Provinsi Jatim, serta dinobatkan sebagai Ikon Prestasi Pancasila oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI pada tahun 2021 lalu. Kehadirannya diharapkan mampu memantik semangat mahasiswa untuk melakukan aksi nyata dalam memupuk rasa cinta tanah air.

​Suasana kelas berlangsung dinamis saat memasuki sesi dialog dan tanya jawab. Para mahasiswa tampak antusias menggali pengalaman langsung dari sang narasumber mengenai tantangan menjaga keberagaman di era digital.

​Dalam pemaparannya, Redy Saputro menekankan bahwa perdamaian bukanlah sesuatu yang datang begitu saja, melainkan sebuah nilai yang harus dirawat secara kolektif.

​"Perdamaian itu harus diperjuangkan bersama-sama. Kita hidup di Indonesia yang beragam agama, budaya, dan latar belakang. Kita harus hidup rukun, damai, serta sama-sama hadir untuk memperjuangkan rasa aman dan damai di masyarakat," pungkas Redy. Ia juga menambahkan bahwa perwujudan sikap nasionalisme tidak harus menunggu momentum besar, melainkan bisa dimulai dari hal-hal kecil di dalam kehidupan sehari-hari. (herry)






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bambang Sugihono Kembali Pimpin GM FKPPI Jember, Siap Bersinergi Bangun Daerah

NJOP di Jember Naik Drastis, REI Berharap Pemerintah Jadi Jembatan Komunikasi

Yayasan Sosial Darma Budi Luhur Resmikan Kolumbarium Parantijati Jember, Siap Tampung Ribuan Abu Jenazah