Menelusuri Sejarah dan Perjuangan KH. Abdul Latief, Sang Pendiri PCNU Cabang Kraksaan
KRAKSAAN. barathanews.com — Sosok KH. Abdul Latief dikenang sebagai ulama pejuang, pendidik, sekaligus tokoh penting yang meletakkan batu pertama berdirinya Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kraksaan, Probolinggo. Perjalanan hidup beliau mencerminkan dedikasi yang tak pernah surut dalam menyebarkan ajaran Islam, membina pendidikan masyarakat, serta mengabdi pada perjuangan umat.
(Disadur dari buku biografi dalam rangka Haul Setengah Abad KH. Abdul Latief, Februari 2023, yang bersumber dari salinan catatan manuskrip Arab Pegon peninggalan beliau).
Latar Belakang Keluarga: Keturunan Prajurit Diponegoro
KH. Abdul Latief lahir di Kraksaan, Probolinggo, pada 3 April 1902. Beliau merupakan putra dari pasangan Mbah Sutodrono dan Nyai Siti Hajar.
Garis keturunan pejuang mengalir kuat dalam tubuhnya. Sang ayah, Mbah Sutodrono, berasal dari Desa Tingkir, Salatiga, dan merupakan prajurit pengawal Pangeran Diponegoro dalam medan perang melawan penjajah Belanda. Usai sebuah pertempuran sengit yang membuat pasukan kocar-kacir, Mbah Sutodrono mengembara hingga tiba di Desa Sidomukti, Kraksaan. Di sanalah beliau bertemu dan menikah dengan Nyai Siti Hajar, seorang putri asal Desa Rangkang, Probolinggo.
Masa Kecil dan Menuntut Ilmu hingga ke Tanah Suci
Kehidupan masa kecil KH. Abdul Latief diuji saat beliau menjadi yatim piatu di usia yang masih sangat muda. Kehilangan kedua orang tua sempat menggoncang batinnya, sebelum akhirnya dirawat dan dibimbing oleh Nyai Adisa.
Di bawah asuhan Nyai Adisa, semangat dan tekad mendalami agama Islam justru tumbuh semakin membara. Beliau melanglang buana menimba ilmu di berbagai pesantren terkemuka di Jawa dan Madura:
* Pondok Siwalan, Sidoarjo.
* Pondok Tebuireng (mulai tahun 1918) di bawah bimbingan langsung Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari.
* Pondok Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura, di mana beliau menuntaskan pendidikan pesantren dan bersahabat erat dengan teman seangkatannya, KH. Hasan Genggong.
Pada tahun 1922, KH. Abdul Latief menunaikan ibadah haji dan memilih bermukim di Mekkah selama 3 tahun untuk berguru kepada para ulama besar di sana. Beliau kembali ke tanah air pada tahun 1926, bertepatan dengan momentum penting di Sidogiri, Pasuruan.
Pernikahan dan Keluarga Besar
Sekembalinya dari tanah suci, KH. Abdul Latief menyunting Hj. Sundari, putri asli Desa Rangkang, pada 4 Desember 1927 (10 Jumadil Akhir 1346 H). Akad nikah bersejarah ini dihadiri oleh jajaran ulama dan tokoh besar, seperti KH. Hasan Genggong, KH. Rafi'i Sentong, KH. Zainuddin Alassumur, KH. Zain, serta dipimpin oleh penghulu KH. Zaina Abidin.
Dari pernikahan KH. Abdul Latief dan Hj. Sundari, beliau dikaruniai 15 orang anak:
* M. Mahfudz (1929–1937)
* Ahmad Munir (1931–2003)
* Nafisah (lahir 1933)
* Asnawi (1936–2015)
* Mas'ud (1938–1948)
* Marfu' (1940–1999)
* Salmah (1942–1949)
* Abd. Salam (1944–1947)
* Cholid (1946–2021)
* A. Badar (lahir 1949)
* Siti Maryam (lahir 1950)
* Rahmani (1953–2021)
* Rahmati (lahir 1953)
* Latifah (1955–2017)
* Moh. Cholil (lahir 1958)
Perjuangan Organisasi, Pendidikan, dan Perintis NU Kraksaan
Dikenal gigih dan visioner, KH. Abdul Latief mendedikasikan hidupnya untuk pergerakan dakwah dan pembinaan generasi muda.
* Tahun 1928: Mendirikan organisasi pergerakan/lembaga As-Subban.
* Tahun 1932: Menjadi pencetus sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Kraksaan, serta dipercaya menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Kraksaan yang pertama.
* Pendidikan & Dakwah: Beliau mendirikan Masjid Nurul Latief di Sidomukti, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Tarbiyatul Wathan, serta SMP Joko Tingkir yang terus beroperasi mendidik warga Kraksaan hingga dekade 1990-an.
Akhir Hayat dan Warisan Perjuangan
KH. Abdul Latief berpulang ke rahmatullah pada 21 Juni 1973 di Jepara. Meski sang kiai telah tiada, api perjuangan dan warisannya terus dihidupkan oleh anak, cucu, dan keturunan beliau.
Saat ini, perjuangan beliau dilanjutkan melalui Yayasan Wakaf KH. Abdul Latief yang berlokasi di Jl. Abdurrahman Wahid No. 314, Sidomukti, Kraksaan, Probolinggo. Yayasan ini terus mengembangkan lembaga-lembaga pendidikan baru, seperti KB-RA Umi Sundari—sebuah nama yang diambil dari nama istri tercinta yang senantiasa mendampingi perjuangan KH. Abdul Latief.
( herry)

Komentar
Posting Komentar